oleh

Tiga Fakta Utang Jumbo Garuda (GIAA), Terancam Pailit hingga Sewa Tertinggi

banner 970x90

Jakarta, Mediakonomi .com –

PT Garuda Indonesia Tbk atau GIAA kini sedang mengalami krisis keuangan, ditambah dengan utang yang kiat membesar. Kondisi ini membuat pemerintah berupaya melakukan segala cara untuk menyelamatkannya.

banner 970x90

Besaran utang yang ditagih juga terus bertambah setiap bulan, ditambah masa pandemi yang membuat krisis keuangan kian memuncak. Tercatat, kerugian Garuda Indonesia pada Semester I-2021 sebesar USD904,9 juta atau setara Rp13,1 triliun (kurs Rp 14.400 per USD).

Berikut fakta-fakta Garuda Indonesia yang dirangkum di Jakarta, Minggu (7/11/2021):

1. Berpotensi Pailit

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berpotensi pailit. Hal ini merujuk pada pernyataan Presiden Jokowi yang meminta Menteri BUMN Erick Thohir menutup BUMN sakit.

BACA JUGA  MenKopUKM Dorong Pelaku UMKM Sektor Peternakan Berbisnis Dalam Skala Ekonomi

“Pernyataan Presiden Jokowi bahwa BUMN yang sakit parah agar ditutup saja,” ujar Pengamat Penerbangan Alvin Lie saat dikonfirmasi Media.

PKPU sendiri merupakan skema restrukturisasi utang emiten pelat merah senilai Rp70 triliun yang ditempuh Kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas.

2. Serikat Karyawan Minta Garuda Indonesia Diselamatkan

Serikat Karyawan Garuda meminta pemerintah segera mengambil langkah penyelamatan terhadap bisnis PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Langkah penyelamatan berupa pemberian penyertaan modal negara (PMN).

Ketua Serikat Karyawan Garuda Indonesia Tomy Tampatty mencatat dua permasalahan emiten pelat merah itu. Keduanya, dampak pandemi Covid-19 dan beban utang akibat kesalahan tata kelola manajemen sebelumnya.

Menurutnya, sewajarnya pemerintah sebagai pemilik 60,54% saham harus memberikan pinjaman modal kerja untuk kelangsungan kegiatan operasional. Namun, dengan catatan semua bisnis perusahaan harus dikelola secara transparan.

BACA JUGA  Hari Indonesia-Mesir, Promosi Produk Unggulan Catat Transaksi Rp4,48 Miliar

“Bahwa terkait penyelesaian permasalahan Garuda Indonesia saat ini, kita harus menyelesaikan permasalahan tersebut tetap dalam bingkai menjunjung tinggi nilai sejarah (Garuda Indonesia),” ujar Tomy.

3. Biaya Sewa Paling Tinggi di Dunia

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menjelaskan soal biaya sewa pesawat (leasing cost) yang tercatat mahal. Harganya mencapai 26% atau paling tinggi di dunia.

VP Corporate Secretary & Investor Relations Garuda Indonesia Mitra Pirant menyebut, harga sewa pesawat Garuda Indonesia tergantung harga pasar saat pesawat diakuisisi perusahaan. Di mana, harga sewa pesawat mempertimbangkan jangka waktu sewa, tahun pembuatan, dan konfigurasi pesawat.

Pernyataan manajemen itu sekaligus menanggapi pertanyaan yang diajukan pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan begitu, terjadi perbedaan signifikan antara harga sewa tahun-tahun sebelumnya dengan harga sewa saat ini.

BACA JUGA  Mendag Tinjau Lokasi Uji Coba Pembukaan Pusat Perbelanjaan

“Harga sewa pesawat dibandingkan dengan harga sewa yang berlaku di pasar saat ini, pasti akan lebih tinggi untuk faktor pembanding yang sama,” tulis manajemen Garuda dalam Keterbukaan Informasi, dikutip.

Sumber berita : Sindonews

banner 970x90

News Feed