oleh

Kerja Sama Indonesia – UEA Prospektif untuk Sektor Halal, UKM, dan Niaga Elektronik

Bogor, Mediakonomi.com – Peluncuran perundingan IUAE-CEPA (Indonesia-Uni Emirat Arab Comprehensive Economic Partnership Agreement) atau perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Emirat Arab (UEA) membawa prospek bagi sektor halal dan negara elektronik (e-commerce) atau niaga-el.

Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Muhammad Lutfi menjelaskan, perjanjian ekonomi di antara Indonesia-UEA memasuki babak baru. Kedua negara sepakat untuk memperkuat hubungan perdagangan secara komprehensif melalui perundingan IUAE-CEPA.

“Terkait dengan halal, saya bercita-cita membangun industri halal kolaboratif yang kuat antara Indonesia-UEA. Tidak hanya untuk pasar kedua negara, tetapi juga untuk dunia. Indonesia dan UEA termasuk negara terkemuka dalam industri halal global sehingga masalah halal menjadi salah satu prioritas utama dalam persetujuan ini,” kata Mendag sesusai peluncuran perundingan IUAE-CEPA di Bogor, Kamis (2/9/2021).

Berita terkait

Indonesia – Uni Emirat Arab Tingkatkan Hubungan Bilateral Secara Komprehensif

Berdasarkan laporan The State of Global Islamic Economic 2020-2021 diperkirakan pertumbuhan pasar halal global mencapai USD 2,4 triliun pada 2024 dengan tingkat pertumbuhan tahunan kumulatif (Commulative Annual Growth Rate/CAGR) lima tahun sebesar 3,1 persen.

BACA JUGA  Pertamina Kejar Target Proyek Pengembangan Kilang Minyak di Balikpapan

Peluncuran IUAE-CEPA dilakukan oleh Mendag RI Muhammad Lutfi dan Minister of State for Foreign Trade Uni Arab Emirates (UAE), Thani bin Ahmed Al Zeyoudi. Rencananya perundingan IUAE-CEPA akan berlangsung sampai dengan Sabtu (4/9/2021).

Pada gilirannya, ujar Lutfi, sektor halal dan kemajuan niaga elektronik itu dapat mendorong perdagangan barang dan jasa yang membuka peluang dan kesempatan bagi para pelaku UKM untuk memperluas pasar ke mancanegara, khususnya UEA.

“Saat ini niaga-el menjadi garda terdepan dalam perdagangan. Meskipun belum ada konsensus internasional mengenai pengaturan niaga-el, kita tetap perlu mendorong terciptanya lingkungan bisnis yang kondusif agar niaga-el dapat semakin maju,” ujarnya.

Untuk mewujudkan lingkungan bisnis yang kondusif, Indonesia telah menyederhanakan 79 undang-undang melalui Omnibus Law atau Undang-Undang Cipta Kerja. UU Cipta Kerja terdiri dari 11 klaster, salah satunya mengenai peningkatan ekosistem investasi dan aktivitas bisnis di berbagai sektor.

BACA JUGA  KKP Selamatkan Bisnis Pembudidaya Ikan dengan Fasilitasi Pinjaman Modal

“Sehingga diharapkan CEPA ini dapat menjadi landasan bagi investor untuk menjadi bagian dalam transformasi ekonomi Indonesia,” ujar Mendag.

Sebagai anggota Gulf Cooperation Council (GCC), Uni Emirat Arab merupakan salah satu pasar ekspor nontradisional yang menjadi hub perdagangan internasional ke tujuan pasar Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Total perdagangan Indonesia UEA pada periode Januari—Juni 2021 tercatat sebesar USD 1,85 miliar. Ekspor Indonesia ke UEA pada periode Januari—Juni 2021 yang sama tercatat sebesar USD 852,26 juta.

Sementara impor Indonesia dari UEA pada periode yang sama tercatat sebesar USD 1 miliar. Adapun total perdagangan Indonesia-UEA pada 2020 tercatat sebesar USD 2,92 miliar. Ekspor Indonesia ke UEA pada 2020 tercatat sebesar USD 1,24 miliar, sedangkan impor Indonesia dari UEA sebesar USD 1,68 miliar.

BACA JUGA  Menkeu Apresiasi Penyelenggaraan DJP IT Summit 2021 Ditjen Pajak

Produk ekspor Indonesia ke UEA yaitu palm oil and its fractions (USD 141,4 juta), articles of jewelry and parts thereof (USD 92, juta), tubes, pipes and hollow profiles (USD 91,7 juta), motor cars and other motor vehicles for transport of persons (USD 79,7 juta); dan woven fabrics of synthetic filament yarn (USD 60,1 juta).

Sementara, impor Indonesia dari UEA yaitu semi-finished products of iron or non-alloy steel (USD 143,2 juta), acyclis hydrocarbons (USD 65,3 juta), unwrought aluminium (USD 52,4 juta), colloidal precious metals (USD 49,8 juta), polymers of propylene (USD 45,0 juta), polymer of Ethylene (USD 28,7 juta), gold (USD 22,9 juta), sulphur of all kinds (USD 15,3 juta), dates, figs (USD 11,1 juta), dan copper waste and scrap (USD 7,6 juta). (*)

banner 970x90

News Feed